East2West Property News - Salah satu pertanyaan paling umum sebelum mengajukan KPR adalah, berapa sebenarnya gaji ideal agar cicilan rumah tidak menjadi beban di kemudian hari? Patokan yang paling banyak dipakai bank maupun perencana keuangan adalah prinsip Debt Burden Ratio atau DBR, yaitu total cicilan bulanan sebaiknya tidak melebihi 30% dari penghasilan bersih. Artinya, jika gaji Anda Rp10 juta per bulan, idealnya cicilan KPR tidak lebih dari Rp3 juta, agar sisa penghasilan tetap cukup untuk kebutuhan hidup, dana darurat, dan cicilan lain yang mungkin sudah berjalan. Semakin tinggi persentase cicilan terhadap gaji, semakin besar pula risiko keuangan rumah tangga terganggu jika terjadi kondisi tak terduga seperti kehilangan pekerjaan atau kenaikan bunga floating.
Bagi yang merasa gaji sendiri belum cukup untuk memenuhi batas DBR ideal, banyak bank menawarkan skema combine income atau joint income, yaitu penggabungan penghasilan antara suami dan istri dalam satu pengajuan KPR. Dengan skema ini, kemampuan bayar dihitung dari total penghasilan berdua, sehingga plafon kredit yang bisa disetujui menjadi lebih besar dan peluang pengajuan diterima pun meningkat, karena bank melihat profil pemohon lebih kredibel dengan dua sumber penghasilan. Combine income umumnya lebih disarankan untuk pasangan yang sudah menikah karena status kepemilikan rumah otomatis menjadi hak bersama, sementara riwayat kredit kedua pihak akan sama-sama diperiksa, sehingga penting memastikan keduanya memiliki catatan kredit yang bersih sebelum mengajukan.
Selain soal gaji dan combine income, ada sejumlah syarat umum yang perlu dipersiapkan sebelum mengajukan KPR agar prosesnya berjalan lancar dan tidak berujung penolakan. Berdasarkan kajian umum yang berlaku di perbankan Indonesia, benar bahwa usia minimal pemohon adalah 21 tahun, dan mayoritas bank memang mensyaratkan masa kerja tertentu sebagai bukti stabilitas penghasilan. Berikut enam syarat utama yang wajib dipersiapkan calon debitur KPR.
Pertama, memenuhi syarat usia minimal 21 tahun dan status WNI. Usia menjadi indikator kematangan hukum untuk mengikat diri dalam kontrak kredit jangka panjang, sementara di sisi lain bank juga memperhatikan usia maksimal saat kredit lunas, yang umumnya berkisar antara 55 hingga 65 tahun tergantung kebijakan masing-masing bank. Semakin muda usia saat mengajukan, semakin panjang pula tenor yang bisa diperoleh, sehingga cicilan bulanan bisa ditekan lebih ringan.
Kedua, memiliki masa kerja atau usaha yang cukup sebagai bukti stabilitas penghasilan. Benar bahwa banyak bank mensyaratkan masa kerja minimal sekitar satu hingga dua tahun, baik di perusahaan yang sama maupun akumulasi pengalaman kerja tanpa jeda panjang, sementara bagi wiraswasta umumnya dibutuhkan riwayat usaha dan laporan keuangan minimal dua tahun terakhir. Syarat ini penting karena bank ingin memastikan penghasilan pemohon benar-benar stabil, bukan sekadar sementara.
Ketiga, memiliki penghasilan tetap yang dapat dibuktikan secara resmi. Karyawan perlu melampirkan slip gaji tiga bulan terakhir beserta surat keterangan kerja asli dari perusahaan, sementara wiraswasta atau profesional perlu menyertakan laporan keuangan dan izin usaha yang masih berlaku. Penghasilan yang diterima secara tunai tanpa tercatat di rekening bank akan lebih sulit diverifikasi, sehingga sebaiknya mulai membiasakan menyetor penghasilan secara rutin ke rekening jauh sebelum mengajukan KPR.
Keempat, memiliki NPWP dan kelengkapan dokumen perpajakan. NPWP pribadi adalah dokumen wajib dalam setiap pengajuan KPR non-subsidi maupun subsidi, karena bank perlu memastikan kepatuhan pajak pemohon sebagai bagian dari penilaian risiko kredit. Bersama NPWP, dokumen identitas seperti KTP, Kartu Keluarga, serta akta nikah bagi yang sudah berkeluarga juga wajib disiapkan sejak awal.
Kelima, dan ini yang paling krusial, pastikan tidak memiliki riwayat cicilan atau kredit macet. Status kolektibilitas kredit di SLIK OJK harus berada di posisi 1 atau lancar, karena tunggakan sekecil apa pun pada pinjaman online, kartu kredit, atau cicilan lain bisa menjadi alasan utama penolakan pengajuan KPR. Sebaiknya lunasi seluruh utang konsumtif dan hindari mengambil kredit baru dalam beberapa bulan sebelum mengajukan, agar profil kredit terlihat bersih di mata bank.
Keenam, siapkan uang muka dan dana cadangan di luar cicilan bulanan. Selain DP yang umumnya berkisar antara lima hingga dua puluh persen dari harga rumah, calon debitur juga perlu menyiapkan biaya tambahan seperti provisi, administrasi, asuransi jiwa dan kebakaran, hingga biaya notaris yang totalnya bisa mencapai lima hingga sepuluh persen dari plafon kredit. Memiliki dana cadangan setara enam hingga dua belas kali cicilan juga sangat disarankan agar keuangan tetap aman jika terjadi kondisi darurat setelah rumah dibeli.
Mempersiapkan KPR bukan sekadar soal memenuhi syarat administratif, melainkan soal membangun fondasi finansial yang benar-benar siap menanggung komitmen jangka panjang. Dengan memahami batas gaji ideal, memanfaatkan combine income secara bijak, serta memenuhi keenam syarat utama di atas, peluang pengajuan KPR disetujui akan jauh lebih besar dan proses menuju rumah pertama pun berjalan lebih lancar tanpa kejutan yang tidak menyenangkan di tengah jalan.
Sumber: East2West Property (JL)
Lihat postingan ini di Instagram