East2West Property News - Bali bukan sekadar destinasi liburan. Bagi investor properti, pulau ini juga menawarkan peluang untuk memiliki aset di kawasan yang memiliki daya tarik wisata internasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, Bali menerima 6.948.754 kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025, meningkat 9,72% dibandingkan 2024. Angka ini memperlihatkan besarnya aktivitas pariwisata yang menopang kebutuhan akomodasi, meskipun pertumbuhan kunjungan tidak otomatis menjamin tingkat hunian atau keuntungan setiap properti.
Di Bali Selatan, Ungasan menjadi kawasan yang menarik untuk diperhatikan karena memadukan lingkungan perbukitan dengan akses ke sejumlah destinasi populer. Garuda Wisnu Kencana (GWK), Pantai Melasti, dan kawasan Jimbaran menjadi bagian dari daya tarik wilayah ini. Bagi calon pembeli vila, kedekatan dengan destinasi tersebut dapat membuat properti lebih menarik untuk digunakan sendiri maupun dipertimbangkan sebagai akomodasi wisata. Namun, nilai sebuah lokasi tetap perlu dinilai dari akses aktual, kondisi lingkungan, fasilitas sekitar, serta karakter calon penyewa yang ingin dijangkau.
Alasan lain kawasan seperti Ungasan diminati adalah perubahan cara orang menikmati liburan. Sebagian wisatawan mencari ruang yang lebih privat, fleksibel, dan nyaman untuk tinggal bersama keluarga atau kelompok, bukan hanya kamar hotel. Vila dengan beberapa kamar tidur, ruang berkumpul, dan kolam renang pribadi dapat menjawab kebutuhan tersebut. Dari sisi investor, fasilitas seperti ini berpotensi menjadi pembeda produk, tetapi hasil akhirnya bergantung pada harga sewa yang realistis, tingkat okupansi, biaya pengelolaan, perawatan, pemasaran, serta persaingan dari vila lain di sekitar lokasi.
Meski begitu, membeli properti di kawasan wisata tidak cukup hanya mengandalkan cerita tentang ramainya turis. Investor perlu menghitung skenario konservatif: berapa malam properti mungkin tersewa dalam setahun, berapa biaya operasionalnya, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Periksa pula status tanah, izin bangunan, perjanjian dengan pengelola, ketentuan penggunaan properti, serta aturan yang berlaku untuk penyewaan akomodasi. Data pariwisata memberi konteks permintaan, tetapi keputusan pembelian tetap harus bertumpu pada angka dan dokumen properti yang spesifik.
Dalam konteks itulah Kana Hills layak masuk daftar proyek yang dipelajari di Ungasan. Dikembangkan oleh PT Kana Land Developments, kawasan vila ini dirancang sekitar 55 unit dalam tujuh tipe. Informasi proyek menyebut setiap vila memiliki kolam renang pribadi, dengan fasilitas kawasan berupa kolam renang bersama dan pool bar, gym, co-working space, restoran, serta taman. Lokasinya diklaim sekitar 2 menit berkendara ke GWK, 10 menit ke Universitas Udayana, dan 20 menit ke Pantai Melasti; waktu tempuh aktual dapat berubah mengikuti kondisi lalu lintas.
Kana Hills menawarkan beberapa pilihan, termasuk tipe Balsa 2 kamar tidur dengan rooftop, serta tipe 3 kamar tidur dengan atau tanpa rooftop. Informasi resmi proyek juga menyebut legalitas berupa SHM yang telah dipecah per unit beserta perizinan terkait, serta skema pembayaran tunai, cicilan bertahap hingga 24 bulan, atau KPR sesuai persetujuan bank. Karena pembelian dilakukan secara off-plan, calon pembeli perlu memeriksa dokumen asli, jadwal pembangunan, spesifikasi serah terima, biaya tambahan, dan ketentuan kontrak sebelum mengambil keputusan. Untuk mengetahui ketersediaan unit, harga terkini, serta promo yang berlaku, hubungi East2West Property +62 815 2820 9892 dan jadwalkan kunjungan ke lokasi Kana Hills agar potensi kawasan dan detail proyek dapat dinilai secara langsung.
Sumber: East2West Property (JL)
Lihat postingan ini di Instagram