Bukan Harga yang Menghalangimu Beli Properti. Ini Alasan Sebenarnya

Kembali ke Beranda

Bukan Harga yang Menghalangimu Beli Properti. Ini Alasan Sebenarnya

East2West Property News - Malam itu Rendra tidak bisa tidur.
Bukan karena sakit. Bukan karena masalah di kantor. Tapi karena satu pertanyaan yang sudah mengikutinya selama tiga tahun terakhir dan belum juga ia jawab pertanyaan yang setiap kali hampir ia putuskan, selalu ada alasan baru untuk menundanya.
 
Kapan waktu yang tepat untuk beli properti?
Tiga tahun lalu ia bilang: tunggu dulu, situasi ekonomi belum stabil. Dua tahun lalu: tunggu dulu, suku bunga lagi tinggi. Tahun lalu: tunggu dulu, mungkin harga masih bisa turun. Dan malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rendra tidak punya alasan baru untuk diucapkan. Yang ada hanya sunyi, dan pertanyaan yang sama, menggantung di langit-langit kamarnya seperti sesuatu yang belum selesai.
 
Rendra bukan orang yang ceroboh dalam keuangan. Justru sebaliknya ia terlalu hati-hati. Ia mencatat setiap pengeluaran, menjaga tabungannya dengan disiplin, tidak pernah berutang untuk hal yang tidak perlu. Teman-temannya sering bilang ia "konservatif." Ia lebih suka menyebutnya "sabar."
 
Tapi ada satu hal yang baru ia sadari malam itu, saat ia berbaring dengan mata terbuka.
 
Sabar dan menunda adalah dua hal yang berbeda. Sabar adalah menunggu sambil bersiap. Menunda adalah menunggu tanpa bergerak dan berharap kondisi berubah dengan sendirinya.
 
Selama tiga tahun terakhir, ia menunda. Dan sementara ia menunda, harga properti yang dulu ia lirik terus bergerak. Bukan turun seperti yang ia harapkan. Naik. Perlahan, konsisten, tanpa meminta izin siapa pun.
 
Ia ingat percakapan dengan Pak Surya, tetangganya yang sudah pensiun. Pak Surya pernah bercerita bahwa ia membeli rumahnya 25 tahun lalu saat semua orang di sekitarnya bilang harganya sudah terlalu mahal. "Saat itu saya pikir saya bodoh," kata Pak Surya sambil tertawa kecil. "Sekarang saya sadar, yang bodoh adalah yang tidak ikut beli."
 
Rendra diam mendengar cerita itu. Ia tidak tertawa. Ia sedang menghitung.
 
Jika 25 tahun lalu semua orang bilang harga sudah terlalu mahal dan ternyata belum maka apa yang membuat kita yakin bahwa hari ini, saat orang bilang hal yang sama, kondisinya berbeda?
 
Ada sebuah bias yang sangat manusiawi dalam pengambilan keputusan investasi. Para psikolog menyebutnya present bias kecenderungan untuk memberi bobot yang terlalu besar pada kondisi hari ini, dan terlalu kecil pada konsekuensi jangka panjang. Kita melihat harga properti hari ini dan berpikir: mahal sekali. Tapi kita lupa membandingkannya dengan harga yang akan kita lihat lima atau sepuluh tahun dari sekarang yang hampir selalu lebih tinggi, di lokasi-lokasi yang memang tumbuh.
 
Rendra pernah membaca bahwa rata-rata orang menyesali dua hal dalam hidupnya: hal yang sudah dilakukan dan ternyata salah, dan hal yang tidak pernah dilakukan padahal seharusnya. Dan dalam dunia investasi properti, nyaris semua penyesalan yang ia dengar dari orang-orang di sekitarnya masuk kategori kedua.
 
Tidak ada yang berkata: "Saya menyesal sudah beli properti itu dulu."
 
Yang ada: "Saya menyesal tidak beli waktu harganya masih segitu."
 
Rendra bangun dari tempat tidurnya. Ia berjalan ke meja kerjanya, membuka laptopnya, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun ia tidak membuka halaman properti untuk dibandingkan atau dianalisis. Ia membuka catatan kosong dan menulis satu kalimat:
 
Apa yang sebenarnya saya tunggu?
 
Ia stare ke kalimat itu lama. Lalu mulai menulis jawabannya, satu per satu.
 
Menunggu harga turun? Dalam 20 tahun terakhir, properti di lokasi berkembang tidak pernah turun secara konsisten. Yang turun hanya momentum untuk masuk.
 
Menunggu penghasilan lebih besar? Penghasilan memang naik tapi harga properti naik lebih cepat. Jarak antara "mampu" dan "harga properti" tidak pernah menyempit dengan cara menunggu.
 
Menunggu kondisi ekonomi lebih baik? Kondisi ekonomi tidak pernah benar-benar "sempurna." Selalu ada sesuatu yang bisa dijadikan alasan suku bunga, inflasi, pemilu, ketidakpastian global. Investor yang menunggu kondisi sempurna biasanya menunggu selamanya.
 
Satu per satu jawaban itu ia tulis. Dan satu per satu, ia sadari bahwa semua alasannya selama tiga tahun bukan alasan yang sesungguhnya. Mereka adalah perwujudan dari satu hal yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih jujur: takut salah.
 
Takut salah dalam keputusan besar adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Tidak ada yang perlu malu mengakuinya. Properti bukan keputusan kecil ini mungkin keputusan finansial terbesar yang akan Anda buat dalam satu dekade. Wajar jika ada gemetar di sana.
 
Tapi ada perbedaan antara takut yang membuat Anda lebih teliti, dan takut yang membuat Anda tidak bergerak sama sekali. Yang pertama sehat. Yang kedua jika dibiarkan terlalu lama justru menjadi risiko terbesar yang tidak pernah Anda hitung dalam spreadsheet mana pun: risiko tidak pernah memulai.
 
Rendra menutup laptopnya. Di luar, langit mulai terang. Ia belum tidur semalaman tapi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia merasa tenang. Bukan karena semua pertanyaannya sudah terjawab. Tapi karena ia akhirnya jujur dengan dirinya sendiri tentang apa yang sebenarnya selama ini menghentikannya.
 
Esok paginya, Rendra menelepon seorang konsultan properti yang sudah lama direkomendasikan temannya. Ia tidak menelepon untuk langsung membeli. Ia menelepon untuk satu hal yang mestinya sudah ia lakukan tiga tahun lalu: mulai berbicara dengan seseorang yang bisa membantunya berpikir dengan lebih jernih tanpa tekanan, tanpa agenda, hanya dengan informasi yang jujur dan lengkap.
 
Karena keputusan terbaik bukan yang paling berani. Bukan pula yang paling lama ditunda. Keputusan terbaik adalah yang dibuat dengan mata terbuka, kepala dingin, dan keberanian untuk akhirnya berhenti bertanya kapan dan mulai bertanya bagaimana.
 
Jika Anda adalah Rendra dan banyak dari kita pernah menjadi Rendra di suatu titik dalam hidup East2West Property ada untuk menemani percakapan itu. Bukan untuk menekan. Bukan untuk menjual. Tapi untuk membantu Anda berpikir lebih jernih tentang keputusan yang sudah terlalu lama Anda tunda

Sumber: East2West Property (JL)
 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Konsultan & Agen Properti Profesional Berlisensi (@east2west_property)

Dapatkan Informasi Terbaru

Intuit Mailchimp