Thailand Mulai Menarik, Tapi Investor Harus Tahu Cara Mainnya

Kembali ke Beranda

Thailand Mulai Menarik, Tapi Investor Harus Tahu Cara Mainnya

East2West Property News - Thailand selama ini lebih sering dilihat orang Indonesia sebagai destinasi wisata, tempat kuliner, atau tujuan liburan keluarga. Namun bagi investor, Thailand memiliki sisi lain yang patut diperhatikan: pasar properti yang melayani pembeli lokal sekaligus pasar internasional. Ketika sebuah negara memiliki arus wisatawan, komunitas ekspatriat, dan aktivitas bisnis yang kuat, properti di lokasi yang tepat berpotensi memiliki fungsi lebih dari sekadar tempat tinggal, termasuk sebagai aset yang menghasilkan pendapatan.

Daya tarik tersebut terlihat dari skala industri pariwisatanya. Tourism Authority of Thailand mencatat Thailand menerima lebih dari 11,35 juta wisatawan internasional pada periode 1 Januari–21 April 2025, sementara pemerintah Thailand terus mendorong pertumbuhan wisatawan dan segmen dengan daya belanja lebih tinggi. Bagi investor properti, angka seperti ini penting karena wisatawan merupakan salah satu sumber permintaan untuk akomodasi, villa, serviced residence, dan berbagai aset hospitality.

Tetapi membeli properti di Thailand tidak bisa dilakukan dengan logika sederhana seperti “beli murah, lalu sewakan.” Investor asing harus memahami struktur kepemilikannya sejak awal. Pemerintah Thailand menjelaskan bahwa warga asing dapat memiliki condominium dalam batas maksimal 49% dari total area unit condominium dalam suatu bangunan. Untuk tanah, aturannya jauh lebih ketat. Karena itu, investor yang melihat villa atau rumah tapak perlu memeriksa apakah skemanya freehold, leasehold, atau struktur lainnya, serta memastikan dokumen dan struktur transaksinya diperiksa secara hukum.

Di sinilah cara berpikir investor menjadi penting. Harga beli hanyalah titik awal. Sebelum memilih properti, hitung siapa target penyewanya, berapa tarif sewa yang realistis, berapa tingkat okupansi yang dibutuhkan agar investasi masuk akal, siapa yang mengelola properti, berapa biaya maintenance, serta bagaimana aset tersebut dapat dijual kembali. Bahkan ketika sebuah proyek memberikan simulasi ROI, angka tersebut sebaiknya dianggap sebagai skenario, bukan jaminan. Investor yang sehat justru perlu membuat perhitungan sendiri dengan asumsi yang lebih konservatif.

Pemilihan kota juga menentukan. Bangkok memiliki karakter pasar yang berbeda dengan Pattaya, Hua Hin, atau Phuket. Properti di Bangkok dapat lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas bisnis dan kebutuhan residensial, sementara destinasi seperti Phuket memiliki keterkaitan yang lebih kuat dengan pariwisata dan hospitality. Karena itu, investor Indonesia sebaiknya tidak bertanya “berapa harga properti di Thailand?”, tetapi mulai dengan pertanyaan yang lebih tepat: “Saya ingin membeli aset Thailand untuk tujuan apa, dan siapa yang nantinya akan menggunakan atau menyewanya?”

Thailand karena itu layak mulai dilirik, tetapi bukan untuk dibeli secara terburu-buru. Investasi properti lintas negara membutuhkan kombinasi antara pemahaman pasar, legalitas, angka investasi, dan strategi penggunaan aset. Bagi investor Indonesia, langkah pertama yang lebih bijak adalah menentukan tujuan investasi terlebih dahulu, kemudian memilih kota dan tipe properti yang sesuai. Jika Anda ingin mengeksplorasi peluang properti Thailand dengan perspektif investasi yang lebih terukur, East2West Property +62 815 2820 9892 siap membantu Anda membandingkan lokasi, produk, struktur kepemilikan, dan potensi aset sebelum mengambil keputusan.

Sumber: East2West Property (JL)

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Konsultan & Agen Properti Profesional Berlisensi (@east2west_property)

Dapatkan Informasi Terbaru

Intuit Mailchimp