East2West Property News - Banyak orang tertarik investasi rumah kos karena terdengar menjanjikan, tapi tak sedikit yang akhirnya kecewa karena tidak menghitung dengan cermat sejak awal.
Prinsip dasarnya sebenarnya sederhana: bandingkan total biaya kepemilikan dengan potensi pendapatan sewa tahunan, lalu hitung berapa lama modal bisa kembali. Sebagai gambaran, jika sebuah rumah kos dibeli seharga Rp1,5 miliar dan menghasilkan pendapatan sewa bersih Rp150 juta per tahun setelah dikurangi biaya operasional, maka return on investment atau ROI-nya sekitar 10% per tahun, dengan estimasi balik modal sekitar 10 tahun.
Namun angka ini bisa sangat bervariasi tergantung lokasi. Rumah kos di kawasan dengan permintaan stabil, seperti dekat kampus, kawasan industri, atau area dengan kalender event padat seperti sekitar BSD, cenderung punya tingkat okupansi lebih tinggi dan lebih cepat menutup biaya investasi awal dibanding lokasi yang kurang strategis.
Selain harga beli dan pendapatan sewa, ada beberapa komponen biaya yang sering terlewat dalam perhitungan awal, seperti biaya renovasi berkala, pajak dan retribusi daerah, biaya listrik dan air jika ditanggung pemilik, hingga potensi kekosongan kamar di periode tertentu. Mengabaikan komponen ini bisa membuat perhitungan ROI di atas kertas terlihat bagus, tapi realitanya jauh lebih kecil.
Sebagai patokan awal, investor sebaiknya menargetkan ROI kotor minimal 8–12% per tahun untuk properti kos di kawasan berkembang, dengan catatan tetap memperhitungkan biaya operasional dan potensi kekosongan kamar secara realistis, bukan asumsi okupansi 100% sepanjang tahun.
Ingin menghitung potensi ROI properti kos yang sedang Anda incar sebelum memutuskan membeli? Tim East2West Property siap membantu Anda melakukan simulasi dan analisis kelayakan investasi secara objektif. Hubungi kami +62 815 2820 9892 sekarang.
Sumber: analisis internal East2West Property berdasarkan tren pasar properti sewa terkini.
Lihat postingan ini di Instagram